ASSALAMU'ALIKUM

dalam satu kesulitan ada dua kemudahan
jangan menyerah.....
allah selalu bersama kita....

Mengenai Saya

Foto Saya
Indonesia
hamba Allah

Kamis, 17 November 2011

Hadist pada masa rasulullah

Sejarah Hadist Pada Masa Nabi Muhammad saw

Masa Nabi Muhammad saw merupakan periode pertama sejarah dan perkembangan hadis. Masa ini cukup singkat, hanya 23 tahun lamanya dimulai sejak tahun 13 sebelum Hijriah atau bertepatan  tahun 610 Masehi sampai dengan tahun 11 Hijriah atau juga bertepatan dengan 632 Masehi.
Saat itu hadis diterima dengan mengandalkan hafalan para sahabat Nabi saw. Para sahabat ada masa itu belum merasa ada urgensi untuk melakukan penulisan hadis-hadis Nabi, mengingat Nabi saw masih mudah untuk dihubungi dan dimintai keterangan-keterangan tentang segala hal yang berhubungan dengan ibadah dan mu’amalah keseharian umat Islam.
Penyusunan kitab Hadis atau penulisan Hadis di dalam sebuah kitab belum terjadi pada masa Rasul saw dan demikian juga belum ada pada masa Sahabat. Pada masa Rasul saw memang ada riwayat yang berasal dari Rasul saw yang membolehkan untuk menuliskan Hadis, namun penulisan Hadis pada masa Rasul masih dilakukan oleh orang perorang yang sifatnya pribadi dan tertentu pada orang-orang yang membutuhkan menuliskannya atau diizinkan oleh Rasul untuk menulis­kannya.
Penulisan Hadis pada masa Rasul saw dan demikian juga pada masa Sahabat belumlah bersifat resmi. Para Sahabat di masa pemerintahan Khulafa ar-Rasyidin, pada umumnya, menahan diri dari melakukan penulisan Hadis. Hal tersebut di antaranya karena adanya larangan Rasul saw dari menuliskan Hadis-hadis beliau. Namun demikian, di samping adanya larangan, disisi lain Rasul saw juga memberi peluang kepada para Sahabat untuk menuliskan Hadis-hadis beliau. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kontroversi dalam hal penulisan Hadis antara adanya larangan dan kebolehan dalam menuliskan Hadis.

A. Perhatian Rasul Terhadap Ilmu

Rasulullah saw adalah orang yang sangat memperhatikan ilmu. Beliau mengingatkan dengan tegas akan pentingnya menuntut ilmu, dan oleh karena itu menuntut ilmu wajib bagi umat Islam, seperti hadis Rasulullah saw berikut ini:


طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (أخرجه ابن ماجه)

Mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap orang Islam. (Hadis diriwayatkan oleh Ibn Majah)
Bukan hanya mencari ilmu yang diperintahkan oleh Rasulullah saw, akan tetapi ilmu yang sudah kita terima, juga harus kita sampaikan kepada orang lain. Sebagaimana Hadis Rasulullah saw berikut ini:


أَلاَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ. (أخرجه ابن ماجه)

Ingatlah, hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. (Hadis diriwayatkan oleh Ibn Majah)
Dari hadis di atas jelas diterangkan bahwa orang yang menghadiri majlis ilmu senantiasa menyebarkan ilmu yang ia terima kepada orang lain yang tidak dapat menghadirinya, dalam kata lain adalah orang-orang yang belum mengetahui ilmu yang ia terima. Dalam hadis lain Rasulullah saw juga menjelaskan akan posisi atau status para Ulama (oran-orang yang berilmu), seperti hadis berikut ini :

العُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِياَء

Orang-orang yang berilmu (Ulama) adalah pewaris para Nabi.

B. Metode Penyampaian Hadis pada Masa Nabi saw

Metode yang digunakan pada masa Nabi saw untuk menyampaikan seuatu hadis atau ajaran Islam adalah sebagai berikut:
  1. Pengajaran bertahab. Di anatara pusat-pusat pengajaran saat itu adalah Rumah Argam bin Abdi Manaf di Makkah sebagai pusat dakwah Islam saat masih dilakukan secara sembunyi. Rumah tersebut dikenal dengan sebutan Dar al-Islam. Kemudian di Masjid dan diberbagai kesempatan, seperti saat perjalanan, majlis ilmu dan lain-lain.
  2. Memberikan Variasi. Terkadang Rasulullah saw memperpanjang senggang waktu antara mauidah yang satu dengan mauidhah lainnya agar para sahabat tidak merasa bosan.
  3. Memberikan contoh praktis.
  4. Memperhatikan situasi dan kondisi (sesuai kadar intelektual mereka)
  5. Memudahkan dan tidak memberatkan.

C. Cara Sahabat Menerima Hadis Pada Masa Rasulullah saw
  

Banyak terdapat berbagai macam hadis yang terhimpun di dalam kitab-kitab hadis. Yang kita lihat sekarang ini adalah berkat kegigihan dan kesungguhan para sahabat dalam menerima dan memelihara hadis pada masa dahulu.
Cara para sahabat menerima hadis pada masa Rasulullah saw berbeda dengan cara yang dilakukan oleh generasi setelah itu. Cara para sahabat menerima hadis dimasa Nabi Muhammad saw yaitu dilakukan oleh sahabat yang dekat dengan beliau, seperti Khula fa ar Rasyidin, dimasa Nabi para sahabat mempunyai minat yang besar untuk memperoleh hadis dari pada Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu mereka berusaha keras mengikuti Nabi Muhammad saw agar perkataan, perbuatan atau taqrir beliau dapat mereka terima atau mereka lihat secara langsung.
Jika diantara para sahabat ada yang berhalangan maka dicari sahabat yang lain untuk dapat mendengar dan melihat apa yang disampaikan. Nabi Muhammad saw pokoknya setiap Nabi menyampaikan sesuatu hukum atau melakukan ibadah apapun jangan sampai tidak ada sahabat yang melihatnya. Sebagai contoh para sahabat sangat berminat untuk memperoleh hadis Nabi Muhammad saw. Dapat kita lihat sebuah tindakan yang dilakukan oleh Umar Ibnu al-Khattab. Untuk dan mendapat hadis dari Nabi Muhammad saw dengan tetangganya apabila hari ini tetangganya yang mencari hadis pada Nabi maka esok harinya giliran Umar yang bertindak. Dalam rangka mencari hadis pada Nabi Muhammad saw.
Siapa diantara sahabat yang bertugas menemui dan mengikuti Nabi serta mendapatkan hadis dari beliau, maka ia segera menyampaikan untuk sahabat-sahabat yang lain. Dalam hal ini ada empat cara yang ditempuh oleh para sahabat untuk mendapatkan hadis dari Nabi Muhammad saw.
1.    Para sahabat selalu mendatangi pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Rasulullah saw.
Rasulullah selalu menyediakan waktu bagi para sahabat untuk menyampaikan berbagai ajaran agama Islam. Para sahabatpun selalu berusaha mengikuti berbagai majelis yang disitu disampaikan berbagai pesan-pesan keagamaan walaupun mereka mengikuti secara bergiliran. Jika ada sahabat yang tidak bisa hadir maka disampaikan oleh sahabat-sahabat yang hadir.
2.    Rasulullah Muhammad saw sendiri yang mengalami berbagai persoalan yang Nabi sendiri yang menyampaikan persoalan tersebut kepada para sahabat, jika sahabat yang hadir jumlahnya banyak maka apa yang disampaikan oleh Nabi dapat tersebar luas.
Dikalangan sahabat-sahabat yang lain jika yang hadir jumlahnya sedikit maka Rasulullah Muhammad saw memerintah kepada sahabat yang hadir untuk segera menyampaikan berita tersebut kepada sahabat-sahabat yang tidak hadir.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Umar Ibnu Khattab bahwa ia menyaksikan seseorang sedang berwudhu untuk melakukan shalat, namun orang tersebut tidak membasahi bagian atas kuku kaki, lantas hal tersebut dilihat oleh Rasulullah saw, dan beliau segera memerintahkan kepada orang tersebut untuk mengalami kembali wudhuknya itu. Dan orang tersebut juga segera mengulangi wuduknya itu dengan sempurna. Ini salah satu contoh beliau jika mengalami satu-satu persoalan segera diperbaiki, walaupun persoalan tersebut dianggap kecil.
3.    Diantara para sahabat mengalami berbagai persoalan kemudian mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah saw tentang bagaimana hukumnya terhadap persoalan tersebut. Kemudian Rasulullah Muhammad saw segera memberikan fatwa atau penjelasan hukum tentang peristiwa tersebut. Kasus yang dialami sahabat apakah kasus yang terjadi pada diri  sahabat itu sendiri maupun terjadi pada sahabat yang lain.
Pokoknya jika diantara para sahabat mengalami satu-satu masalah, para sahabat tidak merasa malu-malu untuk datang secara langsung menanyakan pada Rasulullah saw. Jika ada juga para sahabat yang malu bertanya langsung pada Rasulullah maka sahabat mengutus sahabat yang lain yang berani menanyakan secara langsung tentang peristiwa apa yang dialami sahabat pada waktu itu, sehingga tidak ada persoalan yang tidak jelas  hukumnya.
4.  Kadang-kadang ada juga sahabat yang melihat secara langsung Rasulullah saw melakukan satu-satu perbuatan, hal ini berkaitan dengan ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan ibadah  haji serta ibadah-ibadah lainnya.
Para sahabat yang menyaksikan hal tersebut segera menyampaikan untuk sahabat yang lain atau generasi sesudahnya, diantaranya yaitu peristiwa yang terjadi antara Rasulullah dengan malaikat Jibril mengenai masalah iman, Islam, ikhsan dan tanda-tanda hari kiamat.

D. Penulisan Hadist Pada Masa Rasulullah saw.
Kegiatan membaca dan menulis sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Jahiliyah, walaupun masih dalam sangat yang terbatas. Pada dasarnya pada masa Rasulullah sudah banyak umat Islam yang membaca dan menulis, bahkan Rasul sendiri memiliki sampai 40 orang penulis wahyu disamping para penulis urusan-urusan lainnya. Oleh karenanya argumen yang menyatakan kurangnya umat Islam yang bisa baca tulis adalah penyebab yang tidak ditulis secara resmi pada masa Rasulullah saw adalah dugaan yang sangat keliru, karena berdasarkan keterangan diatas terlihat banyak sekali umat Islam yang mampu membaca dan menulis, cuma kenapa hadis tidak ditulis pada masa itu secara resmi, ini bukan persoalan tidak adanya yang bisa menulis, akan tetapi ada faktor-faktor lain yang oleh Rasulullah sendiri melarang menulis hadis tersebut. Sehingga kita temukan berbagai hadis yang sebagian membenarkan bahkan menambahkan sebagian yang lain melarang untuk menulisnya.
Untuk lebih jelasnya tentang masalah tersebut maka coba penulis kutip beberapa hadis Nabi Muhammad saw, yang kontrofersial tentang perbedaan tersebut, diantaranya :
1.  Nabi Muhammad saw, melarang penulisan hadis yang dilakukan oleh para sahabat, apakah hasil melihat atau mendengar dari Rasulullah saw. Sebagai bukti terdapat pada hadis dari Abu Sa’id al-Khudri ra. Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku, dan barang siapa yang menulis dariku selain al-Qur’an maka hendaklah dia menghapusnya. Dan bicarakanlah tentangku tanpa masalah, dan barang siapa yang berbohong atas namaku maka dia sudah mendudukkan kursinya di Neraka.” (HR. Muslim, al-Daruqutni dan Ahmad).
Dari Abu Hurairah berkata, “Nabi saw suatu hari keluar dan mendapati kami sedang menuIiskan Hadis-hadis, maka Rasul saw bertanya, ‘Apakah yang kamu tuliskan ini?’ Kami menjawab, “Hadis-hadis yang kami dengar dari engkau ya Rasulallah. ” Rasul saw berkata, “Apakah itu kitab selain Kitab Allah (Alquran)?, Tahukah kamu, tidaklah sesat umat yang terdahulu kecuali karena mereka menulis kitab–kitab lain bersama Kitab Allah”. (H. R. al,Khatib).
Dari keterangan riwayat diatas dapat kita pahami bahwa Rasulullah saw, melarang para sahabat untuk menulis hadis sebelum beliau, bahkan beliau sempat menyuruh menghapus hadis-hadis yang  sudah sempat ditulis oleh para sahabat.
2. Perintah (kebolehan) menuliskan hadis ternyata selain terdapat hadis-hadis yang menyatakan bahwa Nabi melarang hadis, maka terdapat juga hadis-hadis yang membolehkan bahkan menyuruh para sahabat untuk menuliskan hadis beliau. Diantara hadis-hadis Nabi saw yang memerintahkan sahabat untuk menulis hadis adalah hadis dari Abu Hurairah ra. : Rasulullah saw berkhutbah (pada haji wada’) dan menyebutkan sebuat kisah dalam sebuah hadis. Kemudian ada sahabat Abu Syah berkata: Tolong tuliskan untuk saya (apa yang engkau khutbahkan), Wahai Rasulullah saw. Rasulullah saw pun berkata kepada beberapa orang sahabat: Kalian tuliskan untuk Abu Syah. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari Rafi’i Ibnu Khudaij bahwa dia menceritakan “ Kami bertanya kepada Rasullah “ Ya Rasulullah sesungguhnya kami banyak mendengar hadis dari engkau apakah kami boleh menuliskannya ? Rasulullah menjawab “Tuliskanlah oleh kamu untukku dan tidak ada kesulitan  (HR.Khatib).
Dan ‘Abd Allah ibn ‘Amr, aku berkata: Ya Rasuulalh (bolehkah) aku menuliskan apa yang aku dengar dari engkau? Rasulullah menjawab: “Boleh”. Aku selanjutnya bertanya: “Dalam keadaan marah atau senang?” Rasul saw menjawab: “Ya, sesungguhnya aku tidak mengatakan sesuatu kecuali yang haq (kebenaran). (H. R. Ahmad).
Dari keterangan beberapa hadis diatas dapat pahami bahwa Rasulullah saw membolehkan untuk menulis hadis, bahkan nabi yang menyuruh sahabat untuk menulis hadis-hadis tersebut.

E. Faktor-Faktor Yang Menjamin Kesinambungan Hadist

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terpeliharanya kesinambungan hadis sejak masa Nabi Muhammad saw sebagai berikut :
1.  Quwwat Al-Zakirah, yaitu kuatnya hafalan para sahabat yang menerima dan mendengarkan langsung hadis-hadis dari Nabi saw. Dan ketika mereka menyampaikan atau meriwayatkan hadis-hadis tersebut kepada sahabat-sahabat lain, mereka menyampaikan persis seperti yang didengar pada Rasulullah saw.
2.  Sangat hati-hati para sahabat dalam meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. Hal ini mereka lakukan karena mereka khawatir, akan terajadi percampuran hadis dengan yang bukan hadis. Oleh karena  itu maka ada para sahabat yang sangat sedikit menghafal hadis dan meriwayatkannya. Termasuk Umat Ibnu AL-Khattab. Dan juga para sahabat ketika menyampaikan dan melafalkan hadis-hadis tersebut penuh dengan kehati-hatian, sehingga  tidak terjadi kesalahan dalam pengucapannya.
3.  Para sahabat sangat hati-hati dalam menerima hadis dari seseorang, bahkan tidak sembarangan. Para sahabat menerima hadis dari siapapun, kecuali jika bersama perawi itu ada orang lain yang mendengar dari Nabi saw, atau dari perawi lain diatasnya. Termasuk Abu Bakar salah seorang sahabat yang sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadis.
4.  Pemahaman terhadap ayat .
Mustafa Al-Shibay berpendapat bahwa lazim terpelihara dari usaha pengubahan adalah Al-Dzikir, selain Al-Qur’an juga meliputi sunnah atau hadis, dan apabila pendapat ini diterima, maka ini merupakan faktor-faktor penjamin yang cukup penting, karena sifatnya langsung dari Allah swt. maka itulah sebabnya, maka kesinambungan hadis ini berlangsung dengan baik, secara terus-menerus disebabkan oleh faktor-faktor yang kita sebutkan diatas. Walaupun sekarang banyak juga terjadi perbedaan dalam keseluruhan hadis itu disebabkan berbeda pemahaman.


F. Pelarangan Penulisan Hadist

Polemik dibolehkan tidaknya penulisan hadis timbul karena ada beberapa hadis yang mendukung, baik yang memperbolehkan penulisan hadis maupun yang melarang. Hadis pelarangan seringkali diangkat tanpa didampingi dengan hadis pembolehan, oleh sebab itu banyak orang yang salah paham dengan hanya menkaji satu hadis saja. Polemik ini dapat mudah diselesaikan dengan mengkaji hikmah dibalik adanya pelarangan penulisan hadis-hadis Rasulullah saw.
Untuk menganalisa pelarangan penulisan hadis pada zaman Rasulullah saw, sebaiknya kita menilik kembali penyemabarn hadis-hadis pada masa Rasulullah saw.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya hadis-hadis Rasulullah saw tersebar bersamaan dengan turunnya wahyu Ilahi kepada Rasulullah saw sejak awal masa dakwah Islam dimulai. Sedangkan faktor-faktor yang mendukung tersebarnya sunah ke berbagai penjuru, antara lain:
  • Kegigihan Rasulullah saw dalam menyampaikan dakwah Islam.
  • Kegigihan dan kemauan keras para sahabat dalam menuntut, menghafal dan menyampaikan ilmu.
  • Para Ummul Mu'minin dan Sahabiyat.
  • Para utusan Rasulullah saw dll.
Sementara itu, Rasulullah pada suatu kesempatan menyampaikan sutau ungkapan yang melarang penulisan hadis-hadis beliau, dan pada kesempatan lain Rasulullah saw memperbolehkan para sahabat menulis apa-apa yang disampaikan Rasulullah saw.
Hadis pelarangan penulisan Hadis sebagai berikut:




عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَكْتُبُوا عَنِّى وَمَنْ كَتَبَ عَنِّى غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّى وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَتَبَوَّأْ  مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ».
Dari Abu Sa'id al-Khudri ra. Rasulullah saw bersabda:
Janganlah kalian menulis dariku, dan barang siapa yang menulis dariku selain al-Qur'an maka hendaklah dia menghapusnya. Dan bicarakanlah tentangku tanpa masalah, dan barang siapa yang berbohong atas namaku maka dia sudah mendudukkan kursinya di Neraka. (HR. Muslim, al-Daruqutni dan Ahmad)
Dan hadis yang membolehkan penulisan hadis adalah sebagai berikut:




عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضي اللهُ عَنْه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم خَطَبَ فَذُكِرَ الْقِصَّةَ فِي الْحَدِيْثِ. فَقَالَ أَبُوْ شَاه: اُكْتُبُوا لِى يَا رَسُولَ اللهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: « اكْتُبُوا لأَبِى شَاهٍ »
Dari Abu Hurairah ra. :
Rasulullah saw berkhutbah (pda haji wada') dan menyebutkan sebuat kisah dalam sebuah hadis. Kemudian ada sahabat Abu Syah berkata: Tolong tuliskan untuk saya (apa yang engkau khutbahkan), Wahai Rasulullah saw. Rasulullah saw pun berkata kepada beberapa orang sahabat: Kalian tuliskan untuk Abu Syah. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

G. Solusi Penyelesaian
  
Hadits ini terlihat kontradiktif dengan hadits sebelumnya, berikut ini adalah pendapat para ulama untk mengkomromikan kedua hadits ini;
1. Bahwa larangan menulis hadits itu, telah dimansukh oleh hadits yang memerintahkan menulis. Nasikh dan Mansukh. Artinya, hadis pelarangan dihapus hukumnya dengan hadis pembolehan, apalagi hadis pembolehan diperkatakan pada tahun 8 H, ketika Haji Wada'. Namun jika ini dijadikan alasan, Abu Sa'id al-Khudri dikatakan masih tetap enggan menulis sampai akhir hanyatnya. Ada riwayat bahwa Abu Bakar sempat membakar lembaran-lembaran hadis, serta Umar pernah mempunyai gagasan untuk penulisan hadis, namun niatan itu diurungkan setelah melakukan istikharah.
2. Bahwa larangan itu bersifat umum, sedang untuk beberapa sahabat khusus diizinkan
3. Bahwa larangan menulis hadits ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan mencampur adukannya denga al-Qur’an, sedangkan keizinan menulis ditujukan kepada mereka yang dijamin tidak akan mencampuradukannya.
4. Bahwa larangan itu dalam bentuk kodifikasi secara formal seperti mushaf al-Qur’an, sedang untuk diakai sendiri tidak dilaarang.
5. Bahwa larangan itu berlaku pada saat wahyu-wahyu yang turun belum dihafal dan dicatat oleh para sahabat, setelah dihafal dan dicatat, menulis hadits diizinkan.

Dan menurut para Ulama pendapat yang kedua adalah pendapat yang paling tepat.
Akan tetapi ada sebuah pertanyaan, benarkah Rasulullah saw takut tercampurnya antara al-Qur'an dan Hadis? Jika kala itu hadis dibolehkan penulisannya kepada semua orang.
Kekhawatiran ini dibantah oleh Ibn hajar dengan menyatakan bahwa sangat berbeda antara bahasa al-Qura'an dan Hadis. Orang Arab pada masa itu mempunyai cita rasa sastra yang sangat tinggi sehingga dengan mudah untuk membedakan aman ayat-ayat al-Qur'an dan mana Hadis Rasulullah saw.
Wallahu A'lam.

H. Hikmah
  • Ketika Rasulullah saw melarang penulisan hadis, baginda melarangnya untuk mayoritas sahabat, namun untuk orang tertentu Rasulullah saw teteap membolehkannya.
  • Salah satu sahabat yang mendapatkan izin adalah Abdullah ibn Amr ibn al-Ash (w. 65 H/685 M).
  • Di antara sahabat yang menulis hadis adalah Abdullah ibn Abbas (w. 68 H/687 M), ALi ibn Abi Thalib (w. 40 H/661 M), Sumrah (Samurah) ibn Jundab (w. 60 H), Jabir ibn Abdullah (w. 78 H/697 M) dan Abdullah ibn Abi Auf (w. 86 H)

Sumber: DVD Hadis & Ilmu Hadis, DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar